Jumat, 06 Desember 2013

Tafakkur, Wafatnya ulama

     


Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin pemimpin bodoh,  mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpاa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (HRal-Bukhari)

    Di antara pertanda baiknya Se-seorang, bila ia lahir ke dunia ini,maka umat manusia akan merasa gembira. Namun ketika ia mening-galkan dunia ini, maka umat akan menangis. Keadaan seperti ini biasanya melekat pada ulama, khusus-nya yang mewarisi Nabi.Wafatnya ulama lazimnya menimbulkan kesedihan mendalam di hati orang banyak.

    Terasa sekali ada suatu kehilangan besar. Tidak demikian dengan meninggalnya seorang yang kaya raya. Padahal ulama yang ses-ungguhnya seringkali tidak mewarisiharta benda. Yang diwariskan adalah ilmu yang berasal dari Allah sebagai penerang jalan dalam menempuh dunia menuju akhirat. Ini pertanda bahwa manusia lebih membutuhkan ilmu ketimbang harta benda duniawi.Buktinya dalam kehidu-pan sehari-hari, banyak orang lebih memilih memperebutkan harta ketimbang mengejar ilmu dari para ulama. Duduk dengan orang-orang berharta banyak atau pemerintahyang berkuasa terhadap harta nega-ra, lebih disenangi ketimbang duduk dengan para ulama. Ulama kadang-kala didekati manakala ingin mencariposisi penting dalam kepemerintahan,agar dikira (oleh banyak orang) dekat dengan para ulama.

   Dengan demikian, bila tidak bergaul dengan ulama, ilmunya menjadi terkubur seiring dengan kepergiannya untuk selama-lamanya. Tertinggallah generasi yang asing dari ilmu agama,yang disukai atau tidak, akan menjadi pemimpin-pemimpin selanjutnya. Tak terkecuali pemimpin dalam bidang agama.ambilah maanfaat dari pada Ulama selama ia masih bersama kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar