
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpاa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (HRal-Bukhari)
Di antara pertanda baiknya Se-seorang, bila ia lahir ke dunia ini,maka umat manusia akan merasa gembira. Namun ketika ia
mening-galkan dunia ini, maka umat akan menangis. Keadaan seperti ini
biasanya melekat pada ulama, khusus-nya yang mewarisi Nabi.Wafatnya ulama lazimnya
menimbulkan kesedihan mendalam di hati orang banyak.
Terasa sekali ada
suatu kehilangan besar. Tidak demikian dengan meninggalnya seorang yang kaya raya. Padahal ulama yang
ses-ungguhnya seringkali tidak mewarisiharta benda. Yang diwariskan
adalah ilmu yang berasal dari Allah
sebagai penerang jalan dalam menempuh dunia menuju akhirat. Ini
pertanda bahwa manusia lebih membutuhkan ilmu ketimbang harta benda
duniawi.Buktinya dalam kehidu-pan
sehari-hari, banyak orang lebih memilih memperebutkan harta ketimbang mengejar ilmu dari para ulama. Duduk dengan orang-orang berharta banyak atau pemerintahyang berkuasa terhadap harta
nega-ra, lebih disenangi ketimbang duduk dengan para ulama. Ulama
kadang-kala didekati manakala ingin mencariposisi penting dalam
kepemerintahan,agar dikira (oleh banyak orang)
dekat dengan para ulama.
Dengan demikian, bila tidak
bergaul dengan ulama, ilmunya menjadi
terkubur seiring dengan kepergiannya untuk selama-lamanya.
Tertinggallah generasi yang asing dari ilmu
agama,yang disukai atau tidak, akan
menjadi pemimpin-pemimpin selanjutnya.
Tak terkecuali pemimpin dalam bidang agama.ambilah maanfaat dari pada Ulama selama ia masih bersama
kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar