Judul: TABIR CINTA DARUSSALAM
Oleh : (El-hasany)
SUB : Menuju samalanga
‘’aku masih terduduk diatas kursi yang semula ku duduki, tiba-tiba seorang lelaki yang memakai baju koko berpeci putih melanggkah ke arahku, beliau orangnya sangat sopan, penyantun dan patut di tiru tingkah laku nya, beliau memberiku salam..!
‘’ASSALAM ALAIKUM,, “aku agak sedikit ragu untuk menjawab salam dari beliau, ‘’wa’alaikum salam, jawab ku, di iringi dengan tingkah laku ku yang aneh, salah tingkah, karena aku merasa malu tidak kesekolah, dan aku berharap agar beliau tidak menanyakan kenapa aku tidak ke sekolah , nyatanya beliau tetap juga menanyakan kenapa aku tidak kesekolah ‘’Shameer kenapa nnggak sekolah,? “Rencananya mau di anterin ke pesantren ustad, jadi sekolahnya aku non aktifkan dulu tuk sementara waktu, jika memang aku takkan betah di pesantren nanti, sekolahnya ku sambung kembali,
Raut wajah ceria terlihat di muka si ustad, seraya beliau mengucapkan alhamdulillah! Teryata kamu suka juga dengan dunia pesantren, ”aku menunduk. lalu beliau menasehatiku, shameer jika suatu hari nanti kau betah di pesantren kau harus belajar yang yang rajin, setelah berhasil nanti kau harus mendidik adek-adek kau yang belum lahir, “sambil sedikit tersenyum, aku pun ikut tersenyum tetapi beliau sangat serius dengan bunyi nasehatnya, Setelah beliau sedikit memberiku pencerahan.beliau pamit untuk ke pasar,beliau adalah salah seorang guru di dayah budi lamno pesantren dimana tempat aku menimba ilmu di waktu malam selama ini,
Selang beberapa detik setelah beliau beranjak pikiranku menerawang kesana – kemari, terkadang sekali-sekali aku ingin melanjutkan sekolah ku yang sempat putus, ingin menakali teman cewek mata biru yang satu sekolahan, gadis –gadis remaja yang di puja kecantikannya oleh hampir seluruh pemuda aceh yang pernah berkunjung ke lamno, ingin aku kerjai mereka sehingga mereka menangis lalu aku tersenyum bahkan tertawa, lalu mereka melapor ke guru sekolah akhirnya aku di hukum dijemur di bawah teriknya matahari. selesai dari hukuman mengajak beberapa teman untuk bertingkah seperti preman jadi-jadian, dan terkadang teringat apa yang barusan beliau nasehati,, teringat akan ucapan beliau “alhamdulillah teryata kau suka pesantren juga, jika kamu jadi kepesantren kamu harus belajar yang rajin dan lain-lain, hatiku sekarang berada di antara ragu dan bimbang belum bisa memutuskan apakah aku akan pesantren? Atau harus menyambung kembali sekolah yang sempat putus?
Jam menunjuki pukul 08:30 aku beranjak pulang ke rumah untuk sarapan pagi, sesampainya di rumah aku langsung menuju kearah meja makan,perlahan aku mulai duduk sambil aku sibak tutup saji yang ada di atas meja makan,alhamdulillah ternyata makanan sudah terlebih dulu di sediakan mak,sambil aku melahap makanan yang ada aku langsung menyampaikan keinginan ku kepada mak...
“mak dalam waktu dekat ini aku harus ke pesantren! maunya sih ke pesantren mudi mesra samalanga, mendengar keinginan ku mak hanya tersenyum sambil melanjutkan cucian piringnya yang belum selesai,di penghujung cuciannya beliau hanya bilang insyaallah akan saya usahakan……………….
Hari itu adalah tangggal 22 november 2004 masehi, bertepatan dengan 9 syawwal 1425 hijriah. Tepatnya hari keberangkatan ku ke pesantren, sebelum berangkat aku pamitan sama uha(kakek) dan mama(nenek), yang sudah mendengar kabar keberangkatanku hari ini, ketika aku membicarakaan keinginanku kepesantren. ku perhatikan ! Nampak jelas terlihat raut wajah-wajah ceria, pasrah, ikhlas bercampur haru di mukanya, tak terdengar amarah atau caci maki terhadapku. mungkin mereka sudah muak dengan tingkah laku ku selama setahun terakhir yang semakin menjadi-jadi bahkan hari ke hari semakin aneh.
Usai bersalaman, pamitan dengan mereka, aku langsung melangkahkan kakiku untuk kembali ke rumah, sesampainya di rumah aku melihat mak sudah siap- siap untuk berangkat.
Dari pulo daya ke banda aceh aku naik bus Pmtoh bang Teuku. aku memilih duduk di bangku paling depan. Karena takut pening, mabuk mobil. sambil duduk aku melihat muka belakang, aku menyadari mak bertukar tempat duduk dengan humaira yang sederetan dengan ummi dan abu yang berada satu kursi di belakangku, aku tidak memikirkan Humaira akan berpindah kemana?. sesaat kemudian ‘‘aku mencoba menoleh kesamping, tiba-tiba aku terperanjat, ’’melihat Humaira sedang menuju ke arahku. ‘’Humaira. ’’gumamku dalam hati. ’’humaira ragu untuk duduk di sampingku, aku mempersilahkan untuk duduk, akhirnya diapun duduk
Begitu bus merangkak berjalan, tak ada kata yang aku keluarkan untuk humaira, Aku mulai memejamkan mata. Rasa kantukku tak bisa ditahan. sebab hampir tiga seperempat malam aku bergadang, mengingat ini malam terakhirku bersama teman-teman termasuk bang madrullah.
Sepanjang perjalanan aku tidur Pulas. Bahkan ketika bus yang yang kutumpangi telah memasuki kawasan Geurutee aku tetap tidak bisa melihat betapa indahnya pesona lautan samudra hindia yang terhampar luas dengan ombaknya yang indah. yang terletak di bagian barat aceh itu, di tambah indahnya pesisir Ujung Seudeun yang menjulur panjang hampir ketengah lautan, gunung – gunung Poe Teumeureuhom yang bersembunyi di belakang gunung sarang walet krueng tunong, monyet-monyet lucu yang selalu menunggu dilempar makanan dari pengendara yang melintas tetap tak bisa kulihat, aku tetap tak juga Bangun ketika mobil Melintasi kawasan pasi lhoong,
Jam menunjuki pukul 11: 30 wib. Bus yang kami tumpangi melintas di depan Masjid Raya baiturrahman. Di sebuah pintu gerbang utama mesjid, tak jauh dari pasar aceh bus berhenti, aku terbangun, lalu aku melihat bang Teuku menurunkan seorang Penumpang gadis berjilbab biru muda, yang minta diturunkan disini. gadis tersebut membayar ongkos. Sebanyak dua puluh ribu rupiah. Lalu mobil yang kami tumpagi terus melaju kearah terminal Lueng bata, untuk mengantarkan kami ke mobil yang akan berangkat ke bireun, lhokseumawe. ketika kami sampai di terminal lueng bata Ummi lebih memilih mobil yang akan berangkat sekarang ketimbang yang berangkat sesudah zuhur, dengan alasan ingin mengajak kami melaksanakan shalat zuhur pada waktu a`sar. (melakukan jamak takhir), mak berbeda pendapat dengan Ummi, beliau bilang lebih baik menunggu shalat zhuhur. karna setengah jam lagi akan masuk waktu shalat zhuhur, Ummi bersikeras, mengingatkan mak dengan mengemukakan pendapat imam Nawawi, yang tertulis dalam kitab Minhajutthalibin, ’’fainkana sairan waqtal ula fatakkhiruha af-dhalun . lalu menyakinkan emak dengan menyebut sebuah hadist yang di riwayatkan oleh bukhari dan muslim, dari Anas r.a, yang artinya: bahwa sesungguh nabi saw. apabila berangkat ia. sebelum tergelincir matahari. beliau menta`khirkan shalat zhuhur kepada waktu a`shar, kemudian beliau turun untuk menjamakkan diantara kedua sembahyang tersebut, seandainya tergelincir matahari sebelum berangkat. nabi saw tetap melaksanakan sembahyang zhuhur dan a`shar, kemudian beliau berangkat, dalam riwayat muslim yang lain dari anas r.a: sesungguhnya nabi saw, apabila terburu-buru berangkat, beliau menta`khirkan shalat zuhur kepada waktu a`shar, dan menjama`kkan diantara keduanya.
Mak dan abu hanya terdiam sesaat, setelah ummi menjelaskan semua itu. lalu mak berkata, begini: ’’apa yang telah di katakan oleh imam nawawi benar, apalagi beliau mengeluarkan pendapatnya berdasarkan beberapa hadist yang saheh, ditambah anda! ‘’Intan qurratul aini, yang menukilkannya.’’celoteh mak santai.
“Nah! yang menjadi permasalahanya : jika kita tidak menunggu shalat zhuhur, dan menjamakkan a`shar kepada zhuhur(zamak taqdim), maka jamak takhir pun tidak bisa engkau dan abu laksanakan, mengapa demikian? sebab ketika mobil yang kita tumpangi tidak berhenti, tidak memberikan waktu, tidak menunggu untuk kita shalat, dan menurunkan kita di samalangga anda berdua sudah tidak dikatakan lagi musafir, anda menjadi mustauthin(tanah air), apalagi di zaman ini jarang ada sopir yang mengerti syariat, apalagi Dinul Islam, kesimpulanya yang bisa melakukan jamak ta`khir. hanya shameer.! sambil menunjuk ke arahku, dan saya. “Ucap mak.’’ saya rasa anda mengerti.! makanya jangan sok sokan menyebut hadist.! Kalau kita tidak mengerti asbabul wurud satu-satu hadist, atau tidak bisa melihat maslahah yang ada. maka hadist bisa terpojokkan, lanjut mak,
‘’baiklah, kita akan berangkat nanti setelah shalat zhuhur.’’abu memutuskan.
Sembari kami berjalan kemushalla dekat terminal, seseorang berteriak menawarkan.‘’Jak - jak samalanga, bireun oie. Hoo nyak, hoe pak? Seorang kondektur menayakan ke aku, apakah? kami berangkat sekarang, dengan mobil mereka atau tidak. ’’aku mengangkat tangan melambai, lalu mengeleng, pertanda tidak,
Usai melakukan jamak taqdim dengan syaratnya yang tiga, yaitu: mendahulukan sembahyang pertama, mendatangkan niat jamak (niat menghimpunkan diantara dua sembahyang), barusan aku lupa meniatkan, niat jamak pada permulaan sembahyang, lalu aku mendatangkannya pada pertengahan sembahyang, karna menurut pendapat yang kuat membolehkan hal tersebut, dan memualatkan (beriring), dalam artian tidak boleh diselangi oleh banyak waktu. abu menyuruh seorang harlan untuk mencarikan kami mobil yang berangkat sekarang. akhirnya kami berangkat dengan flamboyan l300, jurusan banda aceh-bireun.
Setibanya di samalanga aku tidak langsung datang kepesantren yang dituju, mengingat persiapan berupa al-mari, tikar, bantal, kitab-kitab dll belum ada, malam ini aku beristirahat di rumah ummi.
Begitu azan isya, aku langsung menuju ke tempat wudhuk untuk mengambil wudhuk. lalu shalat jamak sebanyak 6 rakaat, tiga rakaat shalat maghrib, isya dua rakaat dan witir satu. Usai shalat aku langsung menuju ketempat peristirahatan. Bersambung..........


Tidak ada komentar:
Posting Komentar