CATATAN ABU KEUMALA BUKTI KARAMAHNYA ABUYA MUDAWALI

Abu Keumala pernah
menceritakan beberapa hal-hal penting tentang sejarah kehidupan Abuya Muda Wali
yang beliau tulis di akhir tulisan beliau tentang wazifah Abuya Muda wali.
Berikut ini kami kutip tulisan tersebut tanpa mengubah sedikitpun..Kejadian
–kejadian yang dapat menunjuki kelebihan Abuya
1. Penyusunan struktur organisasi Darussalam
Pada satu waktu
sekitar awal tahun 1953 Abuya memanggil tokoh –tokoh masyarakat yang mendukung
Darussalam baik yang dekat ataupun yang jauh dan para guru guru yang ada di
Darussalam beserta murid murid Bustan untuk menghadiri sebuah majlis yang
diadakan di ruangan Bustanul muhaqqiqin. Setelah para hadirin lengkap hadir
seluruhnya lalu Abuya membuka majlis dengan ummul Qur an, dan Abuya menamakan
majlis ini dengan :
سفينة السلامة والنجاح .
sehingga saya menamakan satu pengajian di
Medan dan sekitarnya dengan nama Safinatus Salamah. Setelah Abuya menyampaikan
maksud dan tujuan majlis ini dengan cara rinci, lalu Abuya menyerahkan kepada
para hadirin untuk dapat menyusun struktur organissi Darussalam. Seterusnya
Abuya meninggalkan majlis dan majlis mulai menyusun dan menetapkan struktur
organisasi yang terdiri dari :
a. Pimpinan
tertinggi Darussalam :Abuya Syekh H.Muhammad Waly Al-khalidy
b. Wakil pimpinan
Darussalam :Tgk. Muhd.Yusuf.Alami
c. Sekretaris
Darussalam :Tgk. Idrus Abd.Ghani
d. Ketua Dep.
Keamanan :Tgk. Abdullah Tanoh mirah
e. Ketua Dep.P.U
:Tgk. Basyah Lhoong.
Pengamat Darussalam
yang terdiri dari beberapa tokoh masyarakat ,antara lain :
Tgk. Nyak Diwan
T. Ramli Akasyah (Widana )
Tgk. Adnan Bakongan
Abu Adnan Bakongan
T. Usman (Camat) Dan didukung pula
oleh beberapa orang tokoh lainya. Sedangkan Depertemen lain disempurnakan
kemudian. Setelah struktur organisasi dibentuk dan ditetapkan lalu Abuya
kembali masuk ke ruangan majlis untuk mengesahkan keputusan majlis tersebut.
Usaha ini semua bertujuan untuk mengangkat keberadaan Darussalam ditengah
tengah masyarakat kaum muslimin.
KUNJUNGAN GUBERNUR, Sekitar tahun 1954
Gubernur Sumatera Utara (Medan ) Mr. S. M. Amin, Residen Aceh Abd. Razak dan
pembesar –pembesar daerah dengan dideking oleh sebuah kompi Brimob mengunjungi
Darussalam. Setibanya Gubernur dan rombongan di pintu gerbang Darussalam, kami
dan rakyat sekitar telah siap menunggu kedatangan rombongan Gubernur dengan
upacara sambutan ala Darussalam. Seterusnya kami persilahkan Gubernur dan
rombongan untuk mengambi tempat dikursi yang telah kami sediakan, sedangkan
diantara gubernur dan residen tersedia kursi yang masih kosong, kemudian saya
(Tgk.Keumala) menjemput Abuya untuk menghadiri majlis. Setibanya Abuya dipintu
ruangan, saya berseru :’’Dengan hormat, para undangan mohon berdiri…..!Abuya
masuk ruangan. Setelah Abuya menyalami Gubernur dan residen,…..“Para undangan
mohon duduk kembali‘’!. Seterusnya majlis dibuka oeh Nya` Diwan. bapak gubernur
dipersilahkan :!......
Inti sari pidato
gubernur:
‘’Pemerintah sangat
bersedih hati dan prihati atas meletusnya peristiwa DI/TII di Aceh ini, yang
telah banyak menelan korban, baik harta benda dan nyawa maupun sarana dan
prasarana lainnya. Olehkarena itu marilah kita bersama-sama bahu membahu
berusaha untuk menciptakan keamanan dan kedamaian, sehingga kita dapat
melaksanakan tugas sehari-hari yang menyangkut dengan agama dan Negara.
Seterusnya atas nama pemerintah, gubernur menyampaikan terimakasih yang
sebanyak-banyaknya kepada Abuya yang telah memberikan sumbangsih yang
sebesar-besarnya kepada terciptanya kembali keamanan di Aceh khususnya dan
didaerah lainnya umumnya diIndonesia’’ ………………..Demikian Gubernur.
Abuya dipersilahkan
‘’…….
Inti sari dari kata
sambutan Abuya:
‘’Peristiwa Aceh
yang dahsyat itu berasal dari salah penafsiran Nash Al-Qur an dan Hadis oleh
para ulama –ulama yang telah mendukung peristiwa tersebut, oleh karenanya,
andaikata para ulama ulama itu dapat didatangkan atau datang ke Darussalam ini,
InsyaAllah saya akan dapat memberikan penafsiran yang benar tentang hukum
peristiwa yang sedang bergejolak. Demikian Abuya. seterusnya para hadirin
beristirahat sambil minum teh, lalu saya mendekati Gubernur memohon kepadanya
atas nama Abuya dan murid Darussalam supaya didirikan sebuah kantor pos
pembantu di Labuhan Haji ,demi kemudahan kami tentang urusan pos. Gubernur
menjawab ‘’ya, saya terima dan saya laksanakan’’ . Itulah kantor pos Labuhan
Haji. Akhirnya gubernur dan rombongan meninggalkan Darussalam .
UNDANGAN PRESIDEN.
Abuya& Sukarno
KH.Wahab Hasbullah,
Abuya
&Abu Hasan
Krueng Kalee
Tidak lama setelah
gubernur mengunjungi Darussalam, Abuya diundang oleh ’ أولى الأمر ضرورى بالشوكة ‘’. Setelah memutuskan nama
yang disepakati, lalu Abuya sebagai ketua majlis melaporkan kepada presiden dan
presiden mengucapkan terimakasih. Akhirnya para ulama meninggalkan istana
menuju daerahnya masing-masing. Dan kepada Abuya khususnya, Presiden menghadiahkan
satu unit mesin listrik bertenaga tinggi, mesin itu dimuatkan melalui Medan
melalui gubernur Sumatera Utara kedalam sebuah kapal laut. Abuya, bupati Aceh
selatan (Kamarusyid) dan saya sendiri ikut bersama-sama melalui laut menuju
Aceh. Inilah satu-satunya mesin listrik didaerah Labuhan Haji.
presiden RI Sukarno
ke Jakarta. Kami rasa undangan ini sangat rapat hubungannya dengan isi
kunjungan gubernur ke Darussalam. Rupanya undangan ini bukan saja kepada Abuya
tetapi undangan yang sama juga ditujukan kepada tokoh–tokoh ulama yang didaerah
masing masimg ada peristiwa yang sama, sekalipun tidak serupa. Diantara tokoh
tokoh ulama Aceh yang diundang antara lain Abuya sendiri, Abu Hasan Krueng kale
dan beberapa orang pengikutnya. Berangkatlah mereka melalui bandara Polonia,
Medan yang mana saya sendiri (Tgk.Keumala) ikut mengantarkan mereka kebandara.
Setibanya di Jakarta Abuya menemui puluhan tokoh-tokoh ulama daerah yang
diundang antara lain dari Padang, Jawa Barat, Maluku dan lain lain. Setelah
berkumpul ulama ulama di istana Negara, lalu presiden menyatakan selamat datang
dan menyampaikan maksud tujuan undangannya, presiden berkata ‘’saya meminta
kepada para ulama yang hadir untuk merumuskan nama dan keberadaan saya sebagai
presiden RI”. Lalu para ulama merumuskan dan sepakat atas usulan Abuya dengan
nama ‘
PENGAKUAN ULAMA
Tgk.Muhammad Ali
Cumat Keumala meriwayatkan sebagai berikut:
‘’Pada akhir tahun
1950 diadakan sebuah forum perdebatan besra di Mesjid Raya Kuta Raja (Banda
Aceh) yang diadakan oleh panitia majlis, ulama–ulama yang hadir dalam forum
tersebut terdiri dari kaum ulama tua disatu pihak dan ulama muda dipihak yang
lain. Sedangkan masalah ynag dperdebatkan terdiri dari 9 masalah termasuk
bilangan rakaat Shalat Tharawih. Dipihak ulama kaum muda muncullah Tgk. Hasbiy
Ash Shiddiqiy untuk mengemukakan satu demi satu masalah yang diperdebatkan,
lalu ulama kaum tua dipersilahkan untuk menanggapinya. Demikian sterusnya
perdebatan itu berlalu diantara mereka selama beberapa malam. Dalam pada itu,
hujjah kaum tua mulai melemah sekalipun prinsipnya masih kuat. Akhirnya
muncullah Abuya untuk menanggapi keseluruhan masalah yang diperdebatkan dengan
member dalil dan nash yang cukup pada setiap permasalahannya, dan Abuya
menerangkan asal usul perselisihan seraya beliau menunjuki orang-orang yang
mendalangi timbulnya perselisihan.ألحمد لله
Kemudian Tgk. Hasbi
Ash Shiddiqi memberikan komentarnya :
‘’Saya tidak berdebat
dengan Tgk. H. Muh. Waly, akan tetapi saya ingin mengetahui apakah ia seorang
yang alim dan bijaksana’’(Demikian riwayat Tgk.Muh.Ali Cumat). Di samping itu
perlu dicatat bahwa ulama yang hadir merasa kagum dan mengakui akan kealiman
Abuya meskipun tidak diucapkan, kecuali Abu Hasan Krueng Kalee yang mengucapkan
langsung bahwa Tgk. H. Muda Wali sangat alim. (tambahan Tgk. Muh. Ali. Cumat).
KUNJUNGAN ULAMA
INDIA
Salah seorang Ulama
besar india berkebangsaan Pakistan mengunjungi Darussalam dekitar awal tahun
1953. Setibanya ulama ini di Darussalam, keesokan harinya ikut bersama kami ke
ruangan Bustanul Muhaqqiqin untuk menurima pelajaran yang akan diberikan Abuya
melalui kitab Tuhfatul muhtaj. Abuya masuk ruangan, pelajaran dimulai dengan
Abuya sendiri membaca kitab. kami memperhatikan surah kitab yang dikemukakan
Abuya pada hari itu sangat tinggi, dengan cara mengkombinasikan hasil pendapat
Ibnu Hajar dalam surah Tuhfah dengan pendapat Muhammad Syarwany dalam hasyiah
pertama Tuhfah dan dihubungkan pula dengan pendapat Ibnu Qasem pada Hasyiah
Tuhfah yang kedua. Kemudian Abuya dapat mentaqrirkan dan mengeluarkan
pendapatnya sehingga merupakan sebuah bentuk Hasyiah yang lain dan langsung
Abuya menulis dengan tangannya pada lembaran kosong kitab Tuhfah yang ada
dihadapannya. Dan tiap-tiap akhir pendapatnya Abuya menulis انتهى ابن سالم (Abuya
sendiri). Saya memperhatikan dengan sungguh–sungguh sikap ulama ini yang duduk
tidak jauh dari saya, bahwa ia sangat merasa kagum atas pembahasan yang
diuraikan Abuya pada setiap masalahyang dibacakan. Pada akhir majlis Bustan
ulama tersebut sempat memberikan kata pengakuaannya. Dikatakan "Saya telah
mengelilingi Negara-negara Islam di Asia Tengah dan Asia Tenggara dari
Pakistan, Mesir, Makkah, Madinah, Yordania, Malaysia, Indonesia tidak pernah
saya dapati Kitab Tuhfah karangan Ibnu Hajar yang dijadikan sebagai mata pelajaran
dii Universitas di Negara Negara tersebut, kecuali di Darussalam ini. Dan saya
belum pernah mendengar pembahasan kitab ini setinggi pembahasan yang saya
peroleh di dalam Bustanul Muhaqqiqin ini.Syukran "!
Akhirnya ulama
India itu meninggalkan Darussalam .
KUNJUNGAN K.H.
SIRAJUDDIN ABBAS
Seiring dengan
kunjungan ulama India, Darussalam dikunjungi pula oleh seorang ulama besar,
pengarang ulung dan merupakan ketua Umum PERTI seluruh Indonesia dari Padang
K.H.Sirajuddin Abbas. Setibanya di Darussalam Abuya langsung menyambut K.H
Siraj ini sebagaimana seorang abang menyambut adiknya yang tersayang. Demikian
pula K.H. Siraj menghadapai Abuya laksana seorang adik menghadapai abangnya
yang tercinta, sekalipun K.H Siraj jauh lebih tua usianya dari Abuya. Demikian
pula tidak luput dari perhatian saya pada saat temu ramah dan muzakarah tentang
agama yang seharusnya diterapkan dalam PERTI terlihat dalam suasana ringan dan
santai.
Tidak lama kemudian
berkunjung pula seorang Ulama terkenal dari Padang yaitu Abuya Labai Sati.
Kunjungan Abuya Labai Sati ke Darussalam, Abuya sambut sebagaimana seroang
murid yang disayanginya, dan Abuya selalu menghormati nya dalm segala suasana.
Berselang beberapa
tahun kemudian, Abusyik Keumala sempat juga berkujung ke Darussalam untuk menemui
Abuya dengan penuh khidmat dan dihormati Abuya sebagai guru besarnya.
Selanjutnya Abusyik dalam sebuah pertemuan dengan Abuya menyodorkan Kitab Al
Hikam yang memang sudah disediakan untuk dibaca Abuya sebagai mengambil berkat.
Abuya membacakan kitab tersebut satu jumlah kalimat pada awalnya dan satu
jumlah kalimat pada khatamnya dan Abuya berdoa. Setelah Abusyik meninggalkan
Darussalam, sampai dikampung Abusyik mengatakan kepada semua keluarganya yang
berkumpul “Waktu saya melihat Tgk.Syehk H.Muh.Waly seakan akan saya melihat
sebuah gedung yang penuh dengan berbagai macam macam intan mutiara didalamnya”.
Demikian ucapan Abusyik Keumala terhadap Abuya.
SAYA MENGETAHUI
TAPI TIDAK BERANI UNTUK BERTANYA
Pada setiap tahun
selama saya di Darussalam, saya melihat waktu selesai shalat idul fitri dan
khutbahnya diadakan sebuah acara ketangkasan pencak silat yang dilakaukan
pasangan panglima panglima dan ditengah–tengah kumpulan massa penonton sudah
disediakan meja dan sebuah kursi untuk Abuya dan dihadapan terletak sebuah
Kitab. Tidak jauh dari dari Abuya saya duduk untuk memeperhatiakan sikap Abuya.
Apabila suasana aksi pencak silat sudah memuncak dan makin seru serta perhatian
penonton tertuju pada aksi pencak silat itu dan saya memusatkan perhatian
terhadap Abuya, ternyata Abuya شغل بنفسه (bimbang dengan dirinya
sendiri) dan bukan dengan aksi pencak silat itu
MANDI ABUYA
Pada setiap
pertengahan bulan Syawal Abuya turun mandi kesungai Krueng Baroe disekitar
kampong Pante Gelima. Sedangkan masyarakat tua muda, laki laki dan perempuan
sudah mengetahui ketentuan acara ini melalui informasi Tanya bertanya. Tepat
waktu acara itu dilaksanakan pantai Krueng Baroe sudah penuh dengan masyarakat
sejak dari jam 08.00 sampai Abuya masuk menghadairi acara tersebut. Sekitar jam
10.00 Abuya hadir ketempat acara. Abuya duduk atas kursi ditenda yang telah
disediakan dan dihadapannya sudah terletak sebuah kitab diatas meja. Acara
dimulai dengan permainan pencak silat sepanjang pantai dengan penuh meriah yang
disakasiakn ribuan masyarakat sekitar Labuahan Haji. Dan saya perhatikan Abuya
sibuk membuka kitab dan membulak balik lembarannya. Sedikitpun tidak tampak
perhatiannya kepada keramaian masyarakat yang ada dihadapannya, tetapi Abuya شغل بنفسه , seterusnya acara makan dimulai dan mandi
Abuya dilaksanakan, sekaligus masyrakat yang hadir ikut mandi bersama, dan
berakhirlah acara ini sampai menjelang waktu azan Dhuhur.
CINCIN ABUYA
Pada jari manis
tangan kanan Abuya terselip sebuah bentuk cincin suasa berbunga segi empat
bujur. Cincin ini bukan saja saya yang melihatnya. Akan tetapi saya yakin semua
murid sudah pernah menyaksikannya. Pada suatu yang senggang saya ingi bertanya
tentang hal cincin itu, tetapi tidak memungkinkan. Hal ini kecil pada hal luas
pembasannya .
SAYA MENGETAHUI DAN
BERANI SAYA BERTANYA
Pada tangan Abuya
selalu kami melihat tersangkut buah tasbih yang tampaknya sebagai amal lazim
baginya,sehingga tidak pernah ditinggal bahkan pada saat menghadap presiden
kecuali pada waktu shalat ,mengajar, waktu makan, waktu zikir khusus dan waktu
mandi. Kami tidak pernah melihat Abuya memegang parang atau cangkul untuk
membersihkan halaman rumahnya, dan tidak pernah memegang martil atau gergaji
untuk memperbaiki dinding rumahnya. Kami kira Abuya tidak memegang benda lain
karena ia takut tertinggal buah tasbihnya. Pada suatu saat yang senggah saya
memberanikan diri untuk bertanya “Abuya …..apakah hikmah kita selalu memegang
buah tasbih ..?’’. Abuya menjawab dengan senyum manis ‘’Kalau kita memegang
pena, teringat apa yang akan kita tuliskan, kalau kita memegang pedang ,
teringat apa yang akan kita pancungkan, dan kalau kita memegang buah tasbih,
teringat zikir apa yang akan kita ucapkan” .saya menjawab ’’ Alhamdulillah
jelas Abuya ’’.
SAYA MENGETAHUI
AKAN TETAPI KEPADA SIAPA SAYA BERTANYA?
Sebagimana saya
mengetahui di pantai laut sebelah selatan batasan Darussalm tertimbun batu
kerikil putih yang hampir sama ukurannya sejak Abuya mendirikan Darussalm dan
dengan batu itulah paya (rawa)Darussalam ditimbun oleh ribuan murid selama bertahun
tahun,karena komplek Darussalam itu 25% daratan dan 75% lainnya rawa-rawa.
Komplek Darussalam sudah tertimbun rata dan Abuya pun wafat. Lalu batu batu di
pantai laut pun hilang semua. Pada tahun 1978 saya dan Tgk H. Sayyid Zain
Badrun serta keluarga menziarahi Abuya ke Darussalam. Langsung kami datang
kepinggir pantai dengan ta`ajjub (heran ) bercampur haru. Dahulunya pantai
batu, kini berganti menjadi kuala. Sekarang kepada siapa saya bertanya …………………?
ألله أكبر لاحولا ولاقوة إلا بالله علي الغظيم
...…....
KHATIMAH
Wazifah Abuya yang
mulia ini saya orbitkan kehadapan saudara saudara sekalian, bukanlah keterangan
catatan dari orang lain akan tetapi merupkan serangkaian catatan emas didalam
kenangan saya sendiri yang Insya Allah tak akan terlupakan untuk selama-lamaya,
memang jarak jauh waktu saya mu`asharah dengan masa kini saya di Medan sudah ±
40 tahun. Namun dalam kenangan saya terasa baru kemarin terpisah dengan Abuya,
perhatikanlah kalau kita ingin menyimpulkan seluruh kegiatan Abuya maka ternyata
tersimpan kedalam 3 pokok perjuangan yaitu ;
Tuntut ilmu dan
mengajar dengan segala macam sistemnya Amar ma`ruf nahi mungkar dengan segala macam
tehniknya, Ibadah
, berzikir dan berdoa dengan segala macam qaedah dan kaifiatnya . Semua Wazifah
Abuya yang telah kita bicarakan merupakan wazifah wazifah lahiriyah sedangkan
wazifah bathiniyah belum/tidak kita bicarakan, seperti: syaja`ah Abuya,
sabarnya, tawakkalnya, tadharru`nya, zahidnya, ikhlasnya, idraknya, pahamnya,
istiqamahnya dan wazifah nafisah lainnya, karena wazifah ini hanya Allah ta`ala
yaىg mengetahui
dan menilainya
عالم الغيب والشهادة هو الرحمن الرحيم
Abuya sudah tiada
……………………..dan Abuya sudah meninggalkan contoh kepada kita semua. Mari kita
ikuti jejak langkahnya menurut kemampuan dan kelayakan yang ada pada kita.
Abuya sudah berangkat. Tgk.Keumala berseru Abuyaku ………Abuya kami ………….tunggulah
kami. kami menunggumu.
ألفاتحة الشريفة untuk Abuya …..
Medan 25 november
1997
TKG.H.SYIHABUDDIN
SYAH(ABU KEUMALA
) LBM MUDI MESRA.
) LBM MUDI MESRA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar